TERKHUSUS KAMU
Malam makin meninggi.
Gontai, bagaimana kaki harus berpijak.
Langkah pun goyah kemana harus melangkah.
Bertahan tak mampu, maju pun tak kuasa.
Tapi kau lupa, bahagiamu tak sebatas dia.
Secercah asa ada dipelupuk matamu.
Bukalah,
Seraya gerakkan hatimu yang telah kaku.
Pandanglah mereka,
Yang mendekapmu dalam hangat.
Yang mencintaimu dalam harmoni.
Yang mendampingimu dalam lara.
Dan ,
Yang setia berproses bersama.
Karena kamu berhak bahagia.
Namun hati masih saja belum terkendali.
Jiwa yang patah acap kali menghakimi.
Jiwa yang patah acap kali menghakimi.
Gontai, bagaimana kaki harus berpijak.
Langkah pun goyah kemana harus melangkah.
Bertahan tak mampu, maju pun tak kuasa.
Tapi kau lupa, bahagiamu tak sebatas dia.
Secercah asa ada dipelupuk matamu.
Bukalah,
Seraya gerakkan hatimu yang telah kaku.
Pandanglah mereka,
Yang mendekapmu dalam hangat.
Yang mencintaimu dalam harmoni.
Yang mendampingimu dalam lara.
Dan ,
Yang setia berproses bersama.
Karena kamu berhak bahagia.
Jakarta, 18 Januari 2020
Komentar
Posting Komentar